Jakarta, ERANASIONAL.COM – Presiden Prabowo Subianto menegaskan para menteri dan pimpinan lembaga negara akan segera diwajibkan menggunakan Maung, kendaraan hasil produksi PT Pindad (Persero), sebagai mobil dinas resmi pemerintah.

Dalam rapat kabinet yang digelar Senin (20/10) lalu, Prabowo menyampaikan instruksi tegas tersebut di hadapan para menterinya.

“Sebentar lagi saudara-saudara semua harus pakai Maung. Saya tidak mau tahu. Mobil-mobil mewah itu dipakai kalau libur saja,” ujarnya.

Maung sendiri merupakan kendaraan taktis buatan dalam negeri yang saat ini juga digunakan Presiden sebagai kendaraan dinas kepresidenan.

Menanggapi instruksi itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadhewa menyebut anggaran pengadaan sudah tersedia, namun implementasinya menunggu kesiapan industri nasional.

“Tinggal kesiapan industrinya saja. Dari sisi anggaran, uangnya sudah ada,” kata Purbaya di Jakarta, Selasa (21/10/2025).

Kebijakan Prabowo ini memunculkan kembali kenangan terhadap teladan kesederhanaan almarhum Mar’ie Muhammad, Menteri Keuangan era Orde Baru yang dikenal dengan julukan Mr. Clean.

Teladan Kesederhanaan dari Sang “Mr. Clean”

Pada 1996, Mar’ie sempat mengundang perhatian di Istana Negara. Saat hendak menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Presiden Soeharto, ia datang mengendarai mobil Kijang tua milik pribadi bersama sang istri.

Karena mobilnya tampak sederhana dan tidak mencerminkan kendaraan pejabat tinggi, petugas keamanan Istana sempat menahannya di gerbang. Mereka baru menyadari siapa yang datang setelah Mar’ie menunjukkan identitasnya.

Peristiwa itu terekam dalam autobiografi Mr. Clean Mar’ie Muhammad (2025). Dalam buku tersebut, Mar’ie menegaskan bahwa mobil dinas negara tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi.

“Mobil dinas itu dipakai untuk urusan pekerjaan, bukan urusan pribadi,” demikian prinsip yang dipegangnya.

Anaknya menuturkan, sang ayah tidak pernah mengganti barang selama masih bisa berfungsi dengan baik.

“Bagi beliau, efisiensi jauh lebih penting daripada gengsi,” ujarnya.

Kesederhanaan Mar’ie bukan pencitraan, melainkan bagian dari karakter bersih, jujur, dan tegas yang ia tunjukkan selama bertugas. Saat menjabat Direktur Jenderal Pajak, ia berhasil menaikkan penerimaan pajak dari Rp9 triliun menjadi Rp19 triliun.

Ketika dipercaya menjadi Menteri Keuangan, Mar’ie juga mampu menjaga keseimbangan fiskal dan menunda dampak krisis ekonomi berkat kebijakan anggaran yang hati-hati.

Atas prestasinya, majalah Asiamoney menobatkannya sebagai Menteri Keuangan Terbaik di Asia pada 1995. Setelah pensiun pada 1998, ia mendedikasikan hidupnya untuk kegiatan sosial dan gerakan antikorupsi hingga wafat pada 11 Desember 2016.

Kini, di tengah seruan Presiden Prabowo agar pejabat negara beralih ke kendaraan buatan dalam negeri, kisah Mar’ie Muhammad kembali menjadi pengingat bahwa kesederhanaan dan integritas adalah cerminan nyata pengabdian seorang pejabat kepada negara.