Jakarta, ERANASIONAL.COM – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan apresiasinya atas karya Merry Riana dan membagikan refleksinya tentang makna menyandang nama besar keluarga “Yudhoyono”. AHY pun mengakui menyandang nama besar itu tidaklah mudah untuk dijalani.
Hal itu dikatakan oleh AHY putra sulung dari Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono saat menghadiri peluncuran buku The Mentor: 9 Purnama di Sisi SBY karya motivator Merry Riana di. Hotel Ayana Midplaza, Jakarta Pusat, Senin (3/10/2025) malam.
Buku tersebut ditulis berdasarkan pengalaman Merry selama mendampingi Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang juga merupakan ayah AHY.
“Tidak selalu mudah untuk menyandang nama Yudhoyono. Saya, adik saya, dan keluarga kecil kami tentu tidak selalu mudah untuk menyandang nama besar Yudhoyono. Walaupun tentu kami sangat bersyukur karena banyak kemuliaan yang kami dapatkan dalam perjalanan hidup,”ujar AHY.
AHY menuturkan, sering kali keberhasilannya dianggap semata-mata karena memiliki nama Yudhoyono. Sebaliknya, ketika ia mengalami kegagalan, nama keluarganya pun kembali disorot dan dijadikan bahan cibiran.
“Ketika mendapatkan hal-hal baik atau prestasi, biasanya langsung dikaitkan dengan keberuntungan karena punya nama Yudhoyono. Tapi ketika mengalami kegagalan juga dicibir karena dianggap tidak bisa menjaga nama besar Yudhoyono,” ungkapnya.
Putra sulung SBY itu mengaku sempat merasa getir dan ingin protes terhadap berbagai penilaian tersebut. Namun, seiring waktu, ia menyadari bahwa semua itu merupakan bagian dari doa kedua orang tuanya.
“Setelah saya menyadari, mungkin ini adalah jawaban Tuhan atas doa kedua orang tua kami, khususnya ayah kami, Bapak SBY, yang kurang lebih seperti ini: ‘Ya Tuhan, jangan berikan anak-anakku jalan yang mudah, tetapi berikanlah tantangan dalam kehidupan, sekaligus kekuatan agar mereka mampu melampauinya dengan ikhlas, tegar, dan sabar’,” ujarnya.
AHY mengatakan bahwa ia dan keluarganya menerima segala tantangan itu dan memaknainya sebagai takdir.
“Itulah doa seorang ayah yang kemudian dikabulkan. Karena itu, kamu akhirnya tersenyum dan menerima bahwa itulah takdir kami,” tandas AHY.

Tinggalkan Balasan