Salah satu poin utama yang disoroti Reza adalah perlunya peningkatan partisipasi investor lokal di pasar saham Indonesia. Menurutnya, edukasi dan penetrasi pasar modal ke masyarakat harus terus diperluas agar basis investor domestik semakin kuat.
“Dengan semakin banyak investor lokal yang teredukasi dan aktif berinvestasi, mereka bisa menjadi penyangga ketika investor asing keluar. Jadi pasar modal kita tidak langsung jatuh hanya karena sentimen eksternal,” terangnya.
Ia menilai selama ini pasar saham Indonesia masih terlalu sensitif terhadap keputusan lembaga asing, baik itu MSCI, FTSE, maupun indeks global lainnya.
Reza juga mengaku tidak terlalu mempermasalahkan apakah suatu emiten masuk atau keluar dari indeks global yang disusun lembaga asing. Menurutnya, keputusan investasi seharusnya didasarkan pada fundamental dan kinerja emiten, bukan semata-mata pada klasifikasi indeks internasional.
“Ini pasar modal Indonesia, bukan pasar modal asing. Memang ada investor asing, dan itu kita akui. Tapi bukan berarti mereka yang menentukan arah dan masa depan pasar modal kita,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ketergantungan berlebihan pada penilaian asing justru dapat membuat pasar domestik kehilangan kepercayaan diri dan mudah terombang-ambing oleh sentimen global.
Terkait mundurnya Iman Rachman, Reza menilai publik juga perlu melihat persoalan ini secara proporsional. Menurutnya, belum tentu pengunduran diri tersebut akan mengubah sikap atau keputusan MSCI terhadap pasar saham Indonesia.
“Kita juga belum tahu detailnya, apakah ada tekanan tertentu atau murni keputusan pribadi sebagai bentuk akuntabilitas. Tapi yang jelas, mundurnya Pak Iman tidak serta-merta membuat MSCI mengubah pandangannya,” kata Reza.
Ia menilai, fokus utama seharusnya bukan pada figur semata, melainkan pada pembenahan sistem dan kebijakan pasar modal secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan