Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, menyambut baik arahan Presiden dan dukungan Kementerian Perindustrian. Menurutnya, program gentengisasi memberikan optimisme baru bagi industri genteng nasional yang selama ini menghadapi fluktuasi permintaan.

“Bagi kami ini tentu kabar yang sangat menggembirakan. Program gentengisasi memberi optimisme baru bagi sektor genteng nasional,” ujar Edy.

Saat ini, anggota Asaki memiliki kapasitas produksi sekitar 85 juta meter persegi per tahun. Namun, dengan tingkat utilisasi yang telah menembus lebih dari 90 persen, ruang untuk memenuhi lonjakan permintaan tanpa ekspansi dinilai sangat terbatas.

“Produksi kami boleh dikatakan sudah optimal. Karena itu, jika gentengisasi benar-benar dijalankan secara nasional, ekspansi menjadi sebuah keniscayaan,” jelasnya.

Edy menyebut, ekspansi kapasitas tidak hanya berarti peningkatan output dari pabrik yang ada, tetapi juga membuka peluang pendirian pabrik-pabrik baru di berbagai daerah. Hal ini sejalan dengan rencana pemerintah yang ingin melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai bagian dari rantai pasok dan produksi.

“Ekspansi ini tentu berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja baru, baik di sektor manufaktur maupun di sektor pendukung seperti logistik dan distribusi,” ujarnya.

Ia menambahkan, industri genteng nasional pada dasarnya telah siap dari sisi teknologi, sumber daya manusia, dan permodalan. Tantangan utama yang masih perlu dukungan pemerintah adalah soal ketersediaan energi dan bahan baku.

Menurut Edy, produksi genteng sangat bergantung pada pasokan gas industri sebagai sumber energi utama serta tanah liat (clay) sebagai bahan baku. Tanpa kepastian pasokan dan harga yang kompetitif, ekspansi kapasitas berpotensi terhambat.

“Kami membutuhkan jaminan ketersediaan gas dan bahan baku clay. Itu yang menjadi tantangan. Namun dari sisi pasar dan kesiapan industri, kami yakin siap,” tegasnya.

Asaki berharap pemerintah dapat memberikan dukungan kebijakan, baik melalui kemudahan perizinan, insentif industri, maupun penguatan infrastruktur energi untuk memastikan program gentengisasi berjalan optimal.