Jakarta, ERANASIONAL.COM – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan dua personel pasukan perdamaian asal Indonesia meninggal dunia setelah konvoi logistik United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dihantam ledakan di wilayah Lebanon, Senin (30/3).
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix, mengungkapkan bahwa ledakan terjadi di kawasan Bani Hayyan, sektor timur. Serangan tersebut menghancurkan kendaraan yang membawa pasukan penjaga perdamaian. Selain dua korban jiwa, dua personel lainnya dilaporkan mengalami luka, satu di antaranya dalam kondisi serius.
Lacroix mengecam keras serangan tersebut dan menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian tidak seharusnya menjadi target dalam situasi konflik. Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta Pemerintah Indonesia, seraya berharap korban luka dapat segera pulih.
Peristiwa ini terjadi hanya berselang satu hari setelah insiden lain yang juga menewaskan satu prajurit Indonesia. Dalam kejadian sebelumnya, sebuah proyektil menghantam pangkalan UNIFIL di Ett Taibe, menyebabkan satu personel gugur dan satu lainnya mengalami luka berat hingga harus dirujuk ke rumah sakit di Beirut.
PBB menyatakan saat ini pihak UNIFIL tengah melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab serta pihak yang bertanggung jawab atas rangkaian serangan tersebut. Meski berada dalam kondisi yang sangat berisiko, pasukan penjaga perdamaian tetap menjalankan tugas sesuai mandat Dewan Keamanan PBB.
Sementara itu, pada 29 Maret 2026 Kementerian Luar Negeri RI mengonfirmasi korban gugur dalam insiden artileri di Lebanon selatan adalah Praka Farizal Rhomadhon.
Tiga prajurit lainnya Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan—mengalami luka-luka. Salah satu korban dengan kondisi berat telah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit di Beirut.
Berdasarkan data terbaru PBB per Januari 2026, Indonesia mengirimkan sekitar 756 personel dalam misi UNIFIL di Lebanon.

Tinggalkan Balasan