Jika hal tersebut dibiarkan, Daniel kuatir masa depan perusahaan bisa terancam.
“Tantangan pertama sejak dipercaya jadi direktur adalah merombak manajemen. Kita ubah suasana kantor menjadi Milenial. Termasuk melakukan restrukturisasi,”jelas Daniel
“Karyawan-karyawan lama yang masih berpola konvensional kita gantikan dengan para Milenial yang orang-orang yang inovatif,” tambahnya.
Daniel sempat mendapatkan perlawanan dari orang-orang lama di kantor itu.
Namun, keputusannya sudah dipikirkan dengan sangat matang.
“Perusahaan tidak bisa dibiarkan berjalan dengan pola-pola lama tanpa adanya terobosan. Jika dibiarkan, kita akan tergerus sendiri. Ini murni soal strategi bisnis, bukan suka atau tidak suka,” tegas Daniel.
Keputusan Daniel merombak manajemen berdampak baik bagi perusahaan.
Dengan tenaga-tenaga baru yang lebih fresh, bisnis yang dijalankan berubah drastis.
“Pola-pola baru yang kita terapkan membuat energi perusahaan bertambah berkali-kali lipat. Strategi marketing pun berubah. Bahkan kini kita tambahkan produk-produk baru yang sedang trending di bahan bangunan,” ungkapnya
Rencana Daniel di Masa Depan
Saat diangkat jadi Direktur, Daniel menyadari kini beban berat ada di pundaknya.
“Papah selalu memotivasi saya. Dia katakan, kalau omzet perusahaan cuma bertambah dua kali lipat dari sebelumnya, saya belum dikatakan berhasil. Saya ditantang untuk meningkatkan omzet hingga empat atau lima kali lipat,”ungkap Daniel, meniru pesan sang ayah.
Tantangan dari ayahnya menjadi bahan bakar yang membuat Daniel terus melaju.
Ketika mengalami beberapa masalah, Daniel selalu ingat pesan yang selalu orang tuanya sampaikan yakni bersabar.

Tinggalkan Balasan