JAKARTA, Eranasional.com – Memimpin sebuah perusahaan besar merupakan tantangan tersendiri bagi seorang Daniel Surya Tandi.

Pria yang hobi otomotif itu telah dipercaya sebagai direktur di sebuah perusahaan besar.

Bahkan, kini karyawannya mencapai 300 orang tersebar di beberapa perusahaan di bawah bendera Batara Group.

Memimpin perusahaan besar menurutnya harus dengan keuletan dan ketekunan. Dan harus diperhitungkan secara matang.

Apalagi bersaing dengan pelaku usaha yang bergerak di bidang yang sama.

Berkat ketekunan dan keuletannya itulah membuat dirinya sukses menjalankan bisnis Batara Group

Pria yang lahir di Jakarta 5 Agustus itu sudah mengalir darah bisnis sejak kecil.

Ayahnya, Longtjing Tandi, merupakan pengusaha sukses yang telah lama di bidang distribusi bahan bangunan.

Dirinya sedari kedil sudah diperkenalkan oleh sang ayah dengan dunia bisnis.

Hanya saja, di banyak kesempatan dia sering bertanya kepada diri sendiri mengenai passionnya.

Sebagai anak tunggal, dirinyalah yang kelak akan melanjutkan bisnis warisan sang ayah.

Untk mematangkan diri di dunia bisnis. Daniel pun memperdalam ilmu bisnisnya dengan menempuh studi di Victoria University, Australia.

Di sana dia mengambil jurusan Bisnis Manajemen agar matang dalam bebisnis.

Selepas masa kuliah Daniel pun resmi bergabung di perusahaan milik sang ayah.

Namun, alih-alih mendapatkan jabatan presitise, oleh sang ayah dia ditempatkan di bagian logistik hingga ke divisi penjualan.

“Saya sempat tidak terima. Namun kemudian saya sadar bahwa itulah cara papah mendidik saya, membekali saya bagaimana dunia bisnis sesungguhnya,”jelas Daniel di jakarta, Senin (18/9/2023)

“Tidak ujug-ujug di posisi enak, melainkan saya diminta meniti karier dari bawah,” sambungnya.

Restrukturisasi Manajemen

Selama beberapa tahun Daniel berupaya membuktikan dirinya mampu berkontribusi untuk perusahaan di posisi apapun

Hingga tibalah waktunya keluarganya mempercayakan perusahaan kepada Daniel pada awal Januari 2023 lalu.

Daniel dianggap sudah lulus ujian dengan dihadapkan pada sejumlah masalah ketika dia ditempatkan di jabatan-jabatan biasa di perusahaan.

Hampir delapan tahun bekerja di perusahaan, Daniel sudah banyak mempelajari banyak hal.

Satu hal penting yang dia soroti adalah soal majamenen.

Dia menganggap, sistem manajemen Batara Group selama ini masih dijalankan secara konvensional, termasuk pola bisnisnya.

Jika hal tersebut dibiarkan, Daniel kuatir masa depan perusahaan bisa terancam.

“Tantangan pertama sejak dipercaya jadi direktur adalah merombak manajemen. Kita ubah suasana kantor menjadi Milenial. Termasuk melakukan restrukturisasi,”jelas Daniel

“Karyawan-karyawan lama yang masih berpola konvensional kita gantikan dengan para Milenial yang orang-orang yang inovatif,” tambahnya.

Daniel sempat mendapatkan perlawanan dari orang-orang lama di kantor itu.

Namun, keputusannya sudah dipikirkan dengan sangat matang.

“Perusahaan tidak bisa dibiarkan berjalan dengan pola-pola lama tanpa adanya terobosan. Jika dibiarkan, kita akan tergerus sendiri. Ini murni soal strategi bisnis, bukan suka atau tidak suka,” tegas Daniel.

Keputusan Daniel merombak manajemen berdampak baik bagi perusahaan.

Dengan tenaga-tenaga baru yang lebih fresh, bisnis yang dijalankan berubah drastis.

“Pola-pola baru yang kita terapkan membuat energi perusahaan bertambah berkali-kali lipat. Strategi marketing pun berubah. Bahkan kini kita tambahkan produk-produk baru yang sedang trending di bahan bangunan,” ungkapnya

Rencana Daniel di Masa Depan

Saat diangkat jadi Direktur, Daniel menyadari kini beban berat ada di pundaknya.

“Papah selalu memotivasi saya. Dia katakan, kalau omzet perusahaan cuma bertambah dua kali lipat dari sebelumnya, saya belum dikatakan berhasil. Saya ditantang untuk meningkatkan omzet hingga empat atau lima kali lipat,”ungkap Daniel, meniru pesan sang ayah.

Tantangan dari ayahnya menjadi bahan bakar yang membuat Daniel terus melaju.

Ketika mengalami beberapa masalah, Daniel selalu ingat pesan yang selalu orang tuanya sampaikan yakni bersabar.

Jangan ambil keputusan di saat emosi dan cari solusi terbaik dengan pikiran tenang.

Sebab, kata Daniel, tugas dia tidak hanya sekadar membesarkan perusahaan.

Lebih dari itu, ada sekitar 300 karyawan yang menggantungkan nasib di perusahaan itu.

“Ketakutan saya tidak hanya soal perusahaan ini merugi. Tapi ada motivasi lain, saya selalu terpikir dengan 300 orang yang ikut mencari nafkah di sini. Jadi, selain soal aspek bisnis, saya ingin berkontribusi lebih kepada orang lain agar mereka bisa tetap bekerja di sini. Point itu juga yang memotivasi saya membesarkan perusahaan ini,” ungkapnya.

Seiring pertumbuhan kinerja perusahaan, Daniel kini tengah mempersiapkan ekspansi.

Dia berencana membangun pabrik material bangunan

“Jadi nantinya kita akan jadi prinsiple juga, bukan cuma distributor,” janjinya.***