Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem pemantauan serupa, mengingat banyaknya zona subduksi aktif yang membentang dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, hingga Maluku. Dengan penguatan jaringan GNSS dan teknologi pemantauan dasar laut, pembacaan akumulasi tegangan tektonik dinilai dapat dilakukan secara lebih akurat.

“Saat ini saya sedang mengkaji persoalan tersebut di Indonesia,” kata Heki.

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, zona Megathrust Aceh–Andaman tercatat memiliki potensi gempa terbesar dengan magnitudo maksimum mencapai 9,2. Sementara Megathrust Jawa berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 9,1. Zona lainnya seperti Mentawai–Siberut, Mentawai–Pagai, dan Enggano masing-masing memiliki potensi gempa hingga magnitudo 8,9.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menyoroti dua zona megathrust yang masih berada dalam kondisi seismic gap, yakni Selat Sunda dan Mentawai–Siberut. Kedua wilayah tersebut telah ratusan tahun tidak melepaskan energi gempa besar, dengan catatan gempa terakhir terjadi pada 1757 dan 1797.

BMKG menegaskan bahwa istilah “menunggu waktu” tidak dimaksudkan sebagai prediksi waktu terjadinya gempa.

“Yang dimaksud adalah masih tersimpannya energi karena belum terlepas dalam gempa besar dalam waktu lama, bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” tulis BMKG dalam keterangan resminya. (*)