Jakarta, ERANASIONAL.COMLonjakan aktivitas belanja online yang semakin masif di Indonesia membawa dampak ganda. Di satu sisi, kemudahan transaksi digital dan beragam promo menjadi daya tarik utama konsumen. Namun di sisi lain, kondisi tersebut dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan berbagai modus penipuan yang mengincar saldo rekening, dompet digital, hingga data finansial pengguna.

Pelaku kejahatan siber disebut semakin adaptif dalam membaca pola perilaku konsumen, terutama saat periode liburan dan musim promo belanja online. Momentum ini dinilai sebagai waktu paling ideal untuk melancarkan serangan, mengingat tingginya volume transaksi serta kecenderungan pengguna untuk bertindak cepat demi mengejar potongan harga.

Hingga pertengahan 2025, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat terdapat sekitar 5,8 juta percobaan anomali ransomware serta 9,3 juta percobaan aktivitas Advanced Persistent Threat (APT). Angka tersebut mencerminkan meningkatnya intensitas dan kompleksitas serangan siber yang menyasar ekosistem digital nasional, termasuk sektor e-commerce dan layanan keuangan.

Temuan BSSN tersebut sejalan dengan 2025 Holiday Season Cyber Threat Landscape Report yang dirilis oleh Fortinet. Laporan itu menegaskan bahwa lonjakan belanja akhir tahun telah memperluas permukaan serangan siber, tidak hanya bagi konsumen, tetapi juga bagi pelaku usaha digital dan penyedia layanan pembayaran.

Dalam laporannya, FortiGuard Labs mengamati peningkatan signifikan berbagai aktivitas berbahaya, mulai dari munculnya domain palsu bertema liburan dan e-commerce, peredaran masif kredensial akun dan data kartu kredit hasil curian, hingga penggunaan phishing berbasis kecerdasan buatan (AI) yang semakin sulit dibedakan dari komunikasi resmi.

Tak hanya itu, teknik kloning situs e-commerce populer serta praktik credential stuffing yakni mencoba kombinasi username dan kata sandi hasil kebocoran data juga semakin marak. Teknik ini memungkinkan pelaku mengambil alih akun pengguna tanpa disadari, terutama jika korban menggunakan kata sandi yang sama di berbagai platform.