Menjelang puncak musim belanja, Fortinet mencatat lebih dari 1,5 juta kredensial akun e-commerce hasil pencurian beredar di pasar gelap. Kredensial ini kemudian dimanfaatkan oleh penyerang untuk mengakses akun korban, melakukan transaksi ilegal, hingga menyalahgunakan metode pembayaran yang tersimpan.

Pada saat yang sama, pelaku kejahatan siber juga memanfaatkan bot otomatis serta kerentanan yang telah dikenal pada platform e-commerce populer. Dengan cara ini, mereka dapat mengambil alih akun pengguna secara massal dan melakukan penipuan pembayaran dalam waktu singkat.

Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, menilai pola ancaman tersebut menunjukkan bagaimana pelaku kejahatan siber semakin canggih dalam memanfaatkan momentum lonjakan transaksi digital.

“Periode belanja akhir tahun secara historis selalu menjadi sasaran utama karena tingginya intensitas transaksi dan urgensi konsumen dalam memanfaatkan promo,” ujar Edwin dalam siaran pers, Senin (20/1/2026).

Edwin menegaskan bahwa ancaman siber di era belanja digital tidak hanya membebani konsumen, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha. Menurutnya, prinsip buyer beware atau kewaspadaan pembeli kembali relevan di tengah maraknya penipuan digital.

“Risiko keamanan siber merupakan kepentingan bersama. Konsumen harus lebih waspada, sementara pelaku usaha juga perlu memastikan sistem dan edukasi keamanan berjalan optimal,” katanya.

Pelaku kejahatan siber diketahui kerap memanfaatkan domain palsu dan iklan bertema liburan yang dirancang menyerupai promosi resmi dari platform e-commerce ternama. Sekilas, iklan tersebut tampak meyakinkan, lengkap dengan logo, desain visual, hingga bahasa promosi yang profesional.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan turut dimanfaatkan dalam modus kejahatan siber terbaru. Edwin mengungkapkan bahwa AI digunakan untuk membuat pesan phishing yang lebih personal, chat palsu yang menyerupai layanan pelanggan, hingga video promosi berbasis deepfake.

“AI mempercepat dan meningkatkan kualitas penipuan. Konsumen semakin sulit membedakan mana yang resmi dan mana yang palsu,” ujarnya.