Menurut Suyudi, salah satu risiko terbesar dari penyalahgunaan N2O adalah hipoksia atau kekurangan oksigen. Kondisi ini dapat terjadi secara mendadak, terutama jika gas dihirup berulang kali atau dalam konsentrasi tinggi, dan dapat berujung pada kehilangan kesadaran hingga kematian.
“Penyalahgunaan jangka panjang juga bisa menyebabkan kerusakan saraf permanen, gangguan fungsi otak, serta kekurangan vitamin B12 yang parah,” jelasnya.
Kekurangan vitamin B12 akibat penggunaan N2O, lanjut Suyudi, dapat memicu gangguan saraf serius seperti mati rasa pada tangan dan kaki, kesulitan berjalan, gangguan koordinasi, hingga kelumpuhan. Dampak ini tidak selalu dapat dipulihkan meski penggunaan telah dihentikan.
Melihat meningkatnya tren penyalahgunaan Whip Pink, BNN meminta masyarakat untuk lebih waspada dan aktif melakukan pencegahan di lingkungan keluarga. Orang tua diimbau mengenali bentuk-bentuk penyalahgunaan N2O, yang umumnya ditemukan dalam bentuk tabung kecil atau cartridge, serta balon yang digunakan untuk menghirup gas tersebut.
“Kami mengimbau para orang tua agar lebih memperhatikan pergaulan anak dan remaja, serta waspada terhadap benda-benda mencurigakan di lingkungan sekitar,” kata Suyudi.
Ia menambahkan, peran keluarga dan lingkungan sangat penting dalam memutus rantai penyalahgunaan zat adiktif, terutama yang belum banyak dipahami risikonya oleh masyarakat luas. Edukasi dini dinilai menjadi kunci agar anak muda tidak terjerumus pada tren berbahaya yang viral di media sosial.

Tinggalkan Balasan