Lebih lanjut, Misbakhun menilai Bank Indonesia memiliki instrumen kebijakan yang lengkap serta cadangan devisa yang memadai untuk menjaga stabilitas rupiah. Oleh karena itu, langkah intervensi dinilai masih memiliki ruang yang cukup tanpa mengorbankan stabilitas jangka menengah.

Ia menegaskan bahwa stabilisasi nilai tukar bukan sekadar soal menjaga angka di pasar, tetapi juga berkaitan erat dengan kepercayaan investor, iklim usaha, dan dampaknya terhadap sektor riil.

“Jika rupiah tertekan terlalu dalam, efeknya bisa merembet ke harga barang impor, biaya produksi, dan pada akhirnya daya beli masyarakat,” kata Misbakhun.

Dalam pandangannya, BI perlu mengoptimalkan berbagai instrumen moneter yang telah tersedia, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan instrumen pro-market lainnya.

Instrumen-instrumen tersebut dinilai dapat berfungsi ganda, yakni: Menarik kembali arus modal masuk (capital inflow), Menahan laju arus modal keluar (capital outflow) dan Menjaga likuiditas pasar keuangan domestik.

“Optimalisasi instrumen moneter yang tepat sasaran akan membantu menjaga keseimbangan pasar tanpa menimbulkan distorsi yang berlebihan,” ujarnya.

Meski menyoroti tekanan terhadap rupiah, Misbakhun menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid dibandingkan sejumlah negara sejenis (peer countries).

Ia menunjuk beberapa indikator utama, seperti: Pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, Inflasi yang masih terjaga dalam sasaran serta Kinerja neraca perdagangan yang konsisten mencatat surplus.

“Fundamental ekonomi kita tidak rapuh. Di tengah tekanan global yang dialami banyak negara, Indonesia justru menunjukkan resiliensi yang cukup kuat,” katanya.