Jakarta, ERANASIONAL.COM – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI meminta Bank Indonesia (BI) untuk mengambil langkah yang lebih berani dan taktis guna menjaga stabilitas rupiah agar tidak tertekan lebih dalam.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai pelemahan rupiah saat ini tidak bisa dilepaskan dari kombinasi faktor global, mulai dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat hingga eskalasi tensi geopolitik yang memicu volatilitas pasar.
Dalam keterangannya, Misbakhun menegaskan bahwa kondisi global yang penuh ketidakpastian menuntut respons kebijakan moneter yang lebih adaptif dan proaktif.
“Bank Indonesia perlu melakukan intervensi yang lebih agresif namun tetap terukur, baik di pasar valuta asing maupun di pasar obligasi. Volatilitas yang dibiarkan terlalu liar berpotensi membentuk sentimen negatif dan menekan kepercayaan pasar,” ujar Misbakhun, Rabu (4/2/2025).
Misbakhun menyoroti sikap bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama atau high for longer. Kebijakan tersebut mendorong arus modal global kembali ke aset berdenominasi dolar AS, sehingga memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi lain, konflik geopolitik di sejumlah kawasan juga memperkuat sentimen risk-off di pasar keuangan global. Investor cenderung menahan diri atau memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, yang pada akhirnya memicu tekanan terhadap nilai tukar negara emerging market.
Menurut Misbakhun, dalam situasi seperti ini, otoritas moneter tidak bisa bersikap pasif dan hanya mengandalkan mekanisme pasar.
“Menunggu pasar menyesuaikan diri secara alami bukan pilihan yang ideal ketika volatilitas global sangat tinggi. Diperlukan kehadiran otoritas moneter untuk meredam gejolak yang berlebihan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan