Ia menambahkan bahwa dampak paparan bahan kimia tersebut baru terasa setelah 5 hingga 20 tahun penggunaan rutin.
“Efeknya bersifat kronis, bisa menghambat kesuburan, bersifat karsinogenik, dan mutagenik,” katanya.
Bahaya serupa juga ditemukan pada kemasan makanan cepat saji. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science & Technology Letters mengungkap bahwa kertas pembungkus burger, nasi, sandwich, kentang goreng, hingga kotak ayam dan pizza mengandung PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances).
Dari sekitar 400 sampel kemasan makanan cepat saji di Amerika Serikat, peneliti menemukan sekitar 46% kertas dan kotak makanan positif mengandung PFAS, 20% karton pembungkus, serta 16% wadah minuman non-kertas
PFAS digunakan untuk menahan minyak dan lemak, namun telah dikaitkan dengan kanker, gangguan sistem imun, serta masalah perkembangan dan reproduksi.
Untuk mengurangi potensi bahaya, para ahli menyarankan agar segera pindahkan makanan ke wadah aman setelah dibeli, hindari menyimpan makanan panas terlalu lama dalam bungkus kertas, selalu gunakan wadah berbahan stainless steel, kaca, atau keramik dan kurangi konsumsi makanan yang dibungkus kertas daur ulang.
Semakin singkat makanan bersentuhan dengan kemasan berisiko, semakin kecil kemungkinan zat kimia bercampur ke dalam makanan.



Tinggalkan Balasan Batalkan balasan