Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan (manufaktur) masih menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional sepanjang 2025. Sektor ini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Jika digabung dengan sektor perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan, maka kontribusi kelima sektor tersebut terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 63,92 persen.

Meski demikian, BPS mencatat bahwa pertumbuhan tertinggi justru terjadi pada sektor jasa.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan bahwa lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi pada 2025 adalah jasa perusahaan, yang tumbuh 9,10 persen, disusul sektor transportasi dan perdagangan yang tumbuh 8,78 persen.

Menurut Amalia, tingginya pertumbuhan sektor tersebut tidak lepas dari meningkatnya aktivitas rekreasi, perjalanan wisata, serta penyelenggaraan berbagai event nasional dan internasional di Indonesia.

“Peningkatan jumlah penumpang di berbagai moda transportasi serta meningkatnya aktivitas agen perjalanan turut mendorong pertumbuhan sektor ini,” jelas Amalia.

Dengan kembali digulirkannya stimulus jelang Lebaran 2026, pemerintah berharap konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi nasional—tetap terjaga. Selain itu, stimulus diharapkan mampu menjaga optimisme pelaku usaha dan masyarakat di tengah tantangan global yang masih berlangsung.

Pemerintah memastikan detail lengkap stimulus Lebaran 2026 akan diumumkan secara resmi menjelang bulan Ramadan, termasuk skema, besaran insentif, serta sektor-sektor yang menjadi sasaran utama kebijakan.