Jakarta, ERANASIONAL.COM –  Pemerintah memastikan akan kembali menggulirkan paket stimulus ekonomi khusus Lebaran 2026 guna mendorong konsumsi masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional pada awal tahun. Paket stimulus tersebut direncanakan diumumkan menjelang masuk bulan Ramadan, seiring meningkatnya mobilitas dan belanja masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, stimulus Lebaran tahun ini disiapkan dengan mengacu pada pengalaman keberhasilan kebijakan serupa yang diterapkan pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Menurutnya, lonjakan aktivitas ekonomi pada akhir tahun lalu menjadi bukti bahwa intervensi pemerintah masih dibutuhkan untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Program yang digelontorkan pemerintah terbukti memberikan hasil positif di kuartal keempat. Karena itu, pemerintah juga akan mendorong stimulus di kuartal pertama 2026,” ujar Airlangga saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Sebagai gambaran, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV/2025 mencapai 5,39 persen secara tahunan (year on year/YoY). Angka tersebut menjadi pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak periode pascapandemi.

Secara kumulatif, ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 tumbuh 5,11 persen (YoY). Meski berada di atas 5 persen, pemerintah menilai capaian tersebut masih perlu diperkuat, terutama pada awal 2026 yang berpotensi mengalami perlambatan musiman.

Airlangga menilai, pertumbuhan ekonomi pada akhir 2025 tidak lepas dari peran aktif pemerintah dalam menggelontorkan berbagai stimulus fiskal dan kebijakan pendukung konsumsi. Oleh karena itu, pendekatan serupa akan kembali diterapkan untuk menjaga ritme pertumbuhan di awal 2026.

Menurut Airlangga, pemerintah akan memaksimalkan momentum meningkatnya mobilitas masyarakat saat Ramadan dan Lebaran. Berdasarkan evaluasi sebelumnya, periode libur panjang terbukti mendorong belanja rumah tangga, perjalanan wisata, serta aktivitas perdagangan dan transportasi.

“Di bulan Desember, mobilitas masyarakat sangat mendorong konsumsi. Dari situ, kami menarik pelajaran bahwa momentum seperti Lebaran juga bisa dimanfaatkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.