Pertemuan tersebut digelar di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, terutama akibat eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan tren kenaikan signifikan.

Bagi Indonesia, gejolak harga energi global bukan sekadar isu luar negeri. Sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama melalui peningkatan beban subsidi energi dan kompensasi bahan bakar minyak (BBM).

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai bahwa setiap lonjakan harga minyak mentah secara otomatis meningkatkan kebutuhan anggaran subsidi. Menurutnya, jika harga minyak bertahan tinggi dalam jangka waktu lama, tekanan terhadap fiskal negara akan semakin besar.

“Ketika harga minyak naik, maka beban subsidi pemerintah akan membengkak, terutama untuk BBM. Anggaran kita bisa jebol apabila tidak ada realokasi belanja untuk menutup kenaikan subsidi tersebut,” ujar Huda.

Ia menjelaskan, ruang fiskal pemerintah saat ini relatif terbatas. Pemerintah harus berhitung cermat agar defisit anggaran tidak melebar. Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan penyesuaian belanja atau strategi fiskal lain, stabilitas APBN bisa terancam.

Huda juga mengingatkan bahwa mengandalkan peningkatan penerimaan negara bukanlah solusi instan. Ketidakpastian global berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, yang pada akhirnya berdampak pada ekspor Indonesia dan penerimaan pajak domestik.

“Mengandalkan penerimaan negara akan percuma ketika ekonomi global semakin tidak menentu,” katanya.

Menurut dia, opsi penambahan utang baru juga bukan tanpa risiko. Lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan S&P Global Ratings sebelumnya pernah memberikan catatan terkait disiplin fiskal Indonesia. Jika tekanan fiskal meningkat tanpa strategi mitigasi yang jelas, persepsi pasar terhadap risiko Indonesia bisa ikut terdampak.