Roby juga menanggapi beredarnya sejumlah foto yang menampilkan dua orang pengendara sepeda motor yang diduga sebagai pelaku penyerangan. Ia menjelaskan bahwa gambar tersebut merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan atau AI sehingga justru berpotensi menyesatkan proses penyelidikan.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa verifikasi, karena informasi yang tidak akurat dapat mengganggu proses penyidikan yang sedang berlangsung.

Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Budi Hermanto, menyatakan bahwa kasus penyerangan terhadap aktivis KontraS tersebut menjadi salah satu prioritas penanganan aparat kepolisian. Ia menegaskan bahwa penyelidikan dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan penyidik dari Polres Metro Jakarta Pusat dan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Tim penyidik, menurut Budi, menggunakan pendekatan scientific crime investigation untuk mengungkap identitas pelaku. Metode tersebut melibatkan analisis bukti forensik, rekaman kamera pengawas, serta pemeriksaan saksi-saksi yang berada di lokasi kejadian.

Hingga saat ini, kepolisian telah memeriksa sejumlah saksi yang berada di sekitar lokasi ketika peristiwa tersebut terjadi. Para saksi tersebut merupakan warga yang melihat atau mengetahui kejadian tersebut secara langsung.

Penyidik berharap keterangan saksi serta bukti yang dikumpulkan dapat membantu mengungkap kronologi peristiwa secara lengkap dan mengidentifikasi pelaku yang bertanggung jawab atas penyerangan tersebut.

Kasus ini mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan karena menyangkut keamanan aktivis dan kebebasan sipil di Indonesia. Banyak pihak berharap aparat penegak hukum dapat mengungkap pelaku secara cepat dan transparan, sehingga kepercayaan publik terhadap sistem hukum tetap terjaga dan rasa aman masyarakat dapat dipulihkan.