Purbaya menjelaskan, jika yield SBN dibiarkan naik terlalu tinggi, investor asing berpotensi semakin agresif menjual aset mereka di pasar domestik. Hal tersebut tidak hanya menekan pasar obligasi, tetapi juga memperburuk pelemahan rupiah karena permintaan dolar AS meningkat.

“Kalau tekanan di pasar obligasi bisa dikendalikan, investor asing diharapkan tetap bertahan atau bahkan kembali masuk sehingga tekanan terhadap rupiah dapat berkurang,” ujarnya.

Ia menegaskan pemerintah akan melakukan intervensi secara bertahap agar volatilitas pasar tidak semakin meningkat. Menurutnya, langkah stabilisasi perlu dilakukan secara hati-hati untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi nasional.

Pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi sejumlah faktor global, termasuk kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia. Penguatan dolar AS membuat banyak investor global menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia, dan mengalihkannya ke aset yang dianggap lebih aman.

Di sisi lain, pelemahan rupiah sebenarnya dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Namun manfaat tersebut dinilai tidak akan optimal jika volatilitas pasar terlalu tinggi.

Bank Indonesia sendiri sebelumnya telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan pembelian SBN di pasar sekunder. Otoritas moneter juga terus menjaga kecukupan likuiditas dolar AS di pasar domestik agar kebutuhan pelaku usaha tetap terpenuhi.