Jakarta, ERANASIONAL.COM — Badan Gizi Nasional (BGN) mengalokasikan insentif dasar sebesar Rp6 juta per bulan sebagai bentuk apresiasi negara terhadap para mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan, dana insentif tersebut diberikan kepada mitra yang telah membangun fasilitas dapur MBG tanpa menggunakan anggaran pemerintah di tahap awal.
“Dana insentif Rp6 juta ini merupakan bentuk terima kasih negara kepada mitra yang sudah membantu mempercepat pelaksanaan program MBG di lapangan,” ujar Dadan dalam wawancara khusus dengan Eranasional di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Rabu (5/11/2025).
Selain insentif, BGN juga mengalokasikan Rp3.000 untuk biaya operasional dan Rp2.000 untuk insentif per porsi makanan.
“Biaya bahan baku rata-rata ditetapkan Rp10.000 di Jawa, sementara di daerah dengan indeks kemahalan tinggi seperti Papua bisa mencapai Rp30.000 hingga Rp100.000 per porsi,” jelas Dadan.
Untuk mendukung pelaksanaan di lapangan, BGN menerapkan sistem pembayaran digital berbasis virtual account.
Mitra yang telah lolos verifikasi akan menerima uang muka 10–12 hari sebelum pelaksanaan, dengan kewajiban menyampaikan laporan penggunaan dana pada minggu ketiga.
Bangun Ekosistem Gizi Nasional
Badan Gizi Nasional terus memperluas program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan membangun ekosistem gizi nasional berbasis komunitas dan kemitraan.
Melalui program ini, BGN menargetkan sedikitnya 32 ribu mitra aktif di seluruh Indonesia untuk mendukung penyediaan menu bergizi seimbang bagi anak-anak dan masyarakat berpendapatan rendah.
“Program makan ini melayani sekitar 33 ribu penerima manfaat, dan dari situ terbentuk permintaan baru atau new emerging market yang sehat dan berkelanjutan,” kata Dadan Hindayana.
Target 25.400 Mitra SPPG
Tahun ini, BGN menargetkan 25.400 mitra di wilayah aglomerasi dan 6.000–7.000 mitra di daerah terpencil, sehingga total sekitar 32.000 SPPG dapat beroperasi sepanjang 2025.
Dadan menegaskan, BGN dibentuk untuk melakukan intervensi gizi seimbang bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi 60 persen anak-anak yang belum mendapatkan akses terhadap menu bergizi dan susu.
Program MBG menyasar ibu hamil, menyusui, anak balita, hingga remaja usia sekolah agar terbentuk generasi produktif, sehat, dan berdaya saing tinggi di masa depan.
Menanggapi isu publik terkait kualitas menu dan dugaan keracunan di beberapa daerah, Dadan memastikan pihaknya terus memperkuat sistem pengawasan dan distribusi bahan pangan.
“Saat ini ada 14.229 Sentra Penyedia Gizi (SPG) aktif di seluruh Indonesia, dan 100 persen di antaranya dibangun melalui kontribusi mitra tanpa dana APBN. Mereka adalah pahlawan merah putih yang mempercepat pelaksanaan program ini,” tegasnya.
Melalui ekosistem gizi yang kolaboratif, BGN berharap Indonesia mampu melahirkan generasi emas 2045 yang sehat, cerdas, dan memiliki daya saing global.

Tinggalkan Balasan