Senada, Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menilai kenaikan outstanding pinjol justru menjadi sinyal negatif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurutnya, semakin besar utang pinjol masyarakat, semakin kecil kemampuan mereka untuk berbelanja kebutuhan lain. “Kalau kita lihat, semakin tinggi utang pinjol, grafik konsumsi masyarakat justru menurun—berbanding terbalik,” ujar Tauhid.
Ia menjelaskan, kelas menengah ke bawah cenderung menggunakan pinjol untuk kebutuhan sehari-hari karena daya beli yang melemah. Sementara kelas menengah ke atas banyak memanfaatkan pinjaman online untuk memenuhi gaya hidup.
“Masalahnya, bunga pinjol sangat tinggi—bahkan bisa mencapai di atas 100% per tahun. Akibatnya, pada bulan berikutnya mereka harus menanggung beban pelunasan besar, yang justru semakin menggerus daya beli,” tutupnya.
Kenaikan utang pinjol yang disertai peningkatan kredit macet menandakan tekanan ekonomi rumah tangga semakin berat.
Para ekonom mengingatkan, bila tren ini terus berlanjut, perekonomian nasional berisiko terjebak dalam spiral utang konsumtif yang melemahkan daya beli dan pertumbuhan jangka panjang. (**)

Tinggalkan Balasan