Protes massal di Iran pecah sejak 28 Desember, awalnya dipicu oleh tekanan ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta memburuknya kondisi hidup masyarakat. Dalam perkembangannya, demonstrasi meluas menjadi tuntutan politik, termasuk seruan untuk mengakhiri kekuasaan pemimpin tertinggi Iran.
Pemerintah Iran secara konsisten menyebut aksi tersebut sebagai “kerusuhan” dan menuduh adanya campur tangan musuh-musuh negara. Namun, laporan dari berbagai media internasional menunjukkan bahwa aparat keamanan menghadapi para demonstran dengan kekerasan mematikan.
BBC Persian dan BBC Verify telah memverifikasi sejumlah video yang memperlihatkan pasukan keamanan Iran menembaki massa demonstran dengan peluru tajam. Dalam beberapa rekaman, terdengar tembakan dilepaskan secara langsung ke arah pengunjuk rasa.
Selain kekerasan fisik, Iran juga memberlakukan pembatasan internet hampir total. Menurut pemantau jaringan internet NetBlocks, tingkat konektivitas internet di Iran pada Sabtu (17/1) hanya mencapai sekitar 2 persen dari kondisi normal.
Akibatnya, arus informasi dari dalam negeri menjadi sangat terbatas. Meski laporan menyebutkan bahwa intensitas kerusuhan menurun dalam beberapa hari terakhir, kondisi sebenarnya sulit dipastikan karena akses komunikasi publik masih dibatasi secara ketat.
Seorang perempuan di kota Shiraz, wilayah barat daya Iran, mengatakan kepada BBC Persian bahwa pasukan keamanan masih berpatroli menggunakan sepeda motor. Meski demikian, ia menyebut situasi di kota tersebut secara umum mulai kembali normal, walaupun pengawasan aparat masih terlihat di berbagai titik.

Tinggalkan Balasan