Rincian pemasok tersebut terdiri atas: 7.098 koperasi,  806 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), 82 BUMDesma, 26.899 pelaku UMKM, 26.773 pemasok lainnya serta 199 Koperasi Desa Merah Putih.

Meski jumlah Koperasi Desa Merah Putih masih relatif kecil dibandingkan kategori pemasok lainnya, BGN menilai potensi peningkatannya sangat besar, terutama seiring pembentukan dan penguatan koperasi desa di berbagai wilayah.

Dari sisi penerima manfaat, Program MBG telah menjangkau sekitar 59,86 juta orang di seluruh Indonesia. Kelompok penerima meliputi balita, peserta Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Raudhatul Athfal, siswa sekolah dasar hingga menengah, santri pondok pesantren, serta tenaga pendidik.

“Dari segi penerima manfaat makan bergizi, saat ini sudah mencapai sekitar 59,86 juta orang,” ujar Dadan.

Cakupan tersebut menjadikan MBG sebagai salah satu program intervensi gizi terbesar yang pernah dijalankan pemerintah Indonesia.

Meski cakupan penerima manfaat tergolong luas, BGN mengakui masih terdapat ruang besar untuk perluasan program, khususnya di pondok pesantren dan sekolah keagamaan lainnya.

Untuk itu, peningkatan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi fokus utama pada awal 2026. SPPG berperan sebagai unit layanan yang mengelola distribusi makanan bergizi kepada penerima manfaat di wilayah tertentu.

“Kami masih harus meningkatkan cakupan pondok pesantren dan sekolah keagamaan lain. SPPG perlu dibangun sejak awal tahun karena pesantren baru mencakup sekitar 534.000 penerima manfaat,” jelas Dadan.

Salah satu tantangan utama dalam perluasan MBG ke pesantren adalah keterbatasan data. Dadan menyebutkan bahwa tidak seluruh pesantren tercatat secara lengkap di Kementerian Agama, sehingga proses pendataan lapangan masih terus dilakukan.

BGN memandang pembaruan data secara rutin sebagai langkah penting agar jangkauan program semakin merata dan tepat sasaran.

“Pendataan terus kami lakukan karena masih ada pesantren yang belum terdata secara administratif,” katanya.