Menurut Menlu, pembentukan Board of Peace merupakan langkah konkret yang telah lama dinantikan komunitas internasional, khususnya dalam konteks Gaza yang selama bertahun-tahun berada dalam kondisi konflik berkepanjangan dan krisis kemanusiaan.

BoP diharapkan mampu berperan dalam mengawasi proses stabilisasi, membantu koordinasi bantuan kemanusiaan, serta mendukung upaya rehabilitasi infrastruktur dan kehidupan sosial masyarakat Gaza.

Namun demikian, Menlu kembali menekankan bahwa seluruh upaya tersebut harus tetap berada dalam kerangka hukum internasional dan resolusi-resolusi PBB yang relevan.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Board of Peace sebagai salah satu inisiatif perdamaian paling penting dan berpotensi bersejarah. Dalam sambutan peresmian BoP, Trump menekankan bahwa badan tersebut dihimpun dari para pemimpin dunia yang memiliki pengaruh besar dalam mendorong perdamaian global.

“Semua orang di ruangan ini adalah bintang. Ada alasan mengapa kalian di sini. Kalian adalah orang-orang paling berpengaruh di dunia. Ketika kalian menggunakan kejeniusan dan inspirasi itu untuk perdamaian, dunia akan melihat hasilnya,” ujar Trump.

Dengan bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace, Menlu Sugiono menegaskan bahwa Indonesia tetap berkomitmen pada diplomasi multilateral, menjunjung tinggi peran PBB, serta memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina melalui jalur damai.

Ia berharap kehadiran Indonesia dapat menjadi jembatan dialog, menjaga keseimbangan kepentingan, dan memastikan bahwa inisiatif internasional apa pun tetap berpihak pada perdamaian yang adil dan berkelanjutan.