Dalam pandangannya, kegagalan upaya swasembada di masa lalu tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mencoba. Ia justru menekankan pentingnya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan. Titiek meyakini bahwa Indonesia memiliki banyak akademisi dan peneliti dari berbagai universitas yang mampu berkontribusi dalam pengembangan teknologi pertanian, termasuk menemukan bibit unggul kedelai yang sesuai dengan kondisi iklim dan lingkungan di Tanah Air.

Titiek juga menegaskan bahwa ketergantungan pada bibit impor seharusnya mulai dikurangi. Menurutnya, bibit lokal yang dikembangkan secara serius justru lebih adaptif terhadap iklim Indonesia. Dengan dukungan riset yang kuat, bibit-bibit lokal tersebut dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi dan berkelanjutan.

Selain faktor bibit, ia menyoroti tantangan lain dalam budi daya kedelai, seperti perbedaan karakteristik tanah di setiap daerah. Kondisi tanah yang beragam memerlukan pendekatan dan teknologi yang berbeda pula. Oleh sebab itu, penelitian dan pendampingan kepada petani menjadi hal yang sangat penting agar produksi kedelai nasional dapat meningkat secara signifikan.

Tak hanya kedelai, Titiek juga menaruh perhatian besar pada komoditas bawang putih. Ia menilai impor bawang putih masih terlalu besar dan belum mencerminkan semangat kemandirian pangan. Menurutnya, selama ini manfaat impor justru lebih banyak dirasakan oleh pihak-pihak tertentu, sementara petani dalam negeri belum mendapatkan kesempatan yang optimal untuk mengembangkan produksi.