Selama ini, penanganan penyakit mental akibat stres, depresi, maupun kecemasan sering kali baru dilakukan setelah kondisi pasien memburuk. Kemenkes berupaya mengubah pola tersebut dengan memperkuat deteksi dini di kalangan pelajar.

Asnawi menambahkan bahwa guru memiliki peran penting dalam melakukan deteksi awal. Menurutnya, banyak pelajar mengalami gejala depresi karena faktor tuntutan prestasi akademik.

“Evaluasi kami pelajar ini mengalami gejala depresi karena banyak faktor. Faktor utama karena tuntutan prestasi. Jangan nanti setelah parah baru diketahui anak ini mengalami persoalan mental. Ini menjadi satu fokus dalam pelaksanaan cek kesehatan gratis bagi pelajar,” paparnya.

Dengan keterlibatan guru, diharapkan masalah kesehatan mental dapat dikenali lebih cepat sehingga intervensi bisa segera dilakukan.

Melihat tingginya angka depresi dan kecemasan pada anak, Kemenkes memutuskan untuk meningkatkan target pemeriksaan kesehatan mental melalui program CKG. Jika pada tahun 2025 jumlah pelajar yang mengikuti program ini mencapai 25 juta orang, maka pada tahun 2026 targetnya dinaikkan menjadi 50 juta pelajar.

Langkah ini diambil agar cakupan pemeriksaan lebih luas dan lebih banyak anak yang bisa mendapatkan deteksi dini serta tindak lanjut yang tepat.

Pakar kesehatan mental menilai langkah Kemenkes ini sangat penting. Anak-anak dan remaja berada pada fase perkembangan yang krusial, sehingga gangguan mental yang tidak ditangani dapat berdampak panjang hingga dewasa.

Depresi dan kecemasan yang tidak tertangani bisa memengaruhi prestasi akademik, hubungan sosial, hingga kualitas hidup secara keseluruhan. Dengan memperluas cakupan pemeriksaan, pemerintah berupaya memastikan generasi muda Indonesia tumbuh dengan kesehatan mental yang lebih baik.