Selain faktor akademik, tekanan sosial juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya depresi pada anak. Perubahan gaya hidup, penggunaan media sosial, serta ekspektasi lingkungan sering kali menambah beban psikologis pelajar.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan mental, sehingga anak yang mengalami gejala depresi sering kali tidak mendapatkan dukungan yang memadai. Program CKG diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus memberikan akses layanan kesehatan mental yang lebih mudah.

Kemenkes juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menangani masalah kesehatan mental anak. Selain guru, orang tua juga diharapkan lebih peka terhadap tanda-tanda depresi dan kecemasan pada anak. Dukungan keluarga menjadi faktor kunci dalam proses pemulihan. Dengan komunikasi yang baik dan lingkungan yang mendukung, anak-anak dapat lebih terbuka dalam menyampaikan perasaan mereka.

Pemerintah daerah juga diminta aktif mendukung program ini dengan menyediakan fasilitas kesehatan mental di sekolah maupun puskesmas.

Dengan target pemeriksaan 50 juta pelajar pada tahun 2026, Kemenkes berharap angka depresi dan kecemasan pada anak dapat ditekan. Program ini bukan hanya tentang pemeriksaan, tetapi juga tindak lanjut berupa konseling, terapi, dan pendampingan bagi anak yang terdeteksi mengalami gejala.

Dengan pendekatan komprehensif, diharapkan generasi muda Indonesia dapat tumbuh lebih sehat secara mental dan siap menghadapi tantangan masa depan.