Meski demikian, Jamiluddin mengingatkan bahwa kinerja pemerintahan saja tidak cukup. Elektabilitas tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan siapa yang akhirnya dipilih sebagai pendamping calon presiden.

Ia menekankan, Presiden Prabowo akan lebih mudah meyakinkan partai koalisi untuk mendukung Teddy jika tingkat keterpilihannya di berbagai survei menunjukkan tren positif. Elektabilitas yang kuat akan memperkecil resistensi dari partai-partai pendukung.

“Dalam sistem politik kita, survei punya pengaruh besar. Partai cenderung realistis dan mempertimbangkan data elektoral sebelum menentukan sikap,” katanya.

Menurutnya, jika Teddy mampu menjaga citra positif sekaligus meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya, maka partai koalisi tidak akan memiliki alasan kuat untuk menolak pencalonannya sebagai cawapres.

Namun jalan menuju posisi tersebut tidaklah mudah. Peta persaingan menuju 2029 diprediksi akan diwarnai oleh sejumlah figur kuat yang sudah memiliki basis dukungan maupun tingkat pengenalan publik yang tinggi.

Nama Gibran Rakabuming Raka masih menjadi salah satu kandidat yang diperhitungkan. Sebagai wakil presiden, Gibran memiliki panggung politik nasional yang besar dan akses langsung pada kerja-kerja strategis pemerintahan.

Selain itu, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono juga diperkirakan akan menjadi figur yang diperhitungkan. Dengan pengalaman di kabinet serta posisi strategis di partai, AHY memiliki mesin politik yang relatif solid.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut disebut sebagai sosok yang berpotensi mengalami lonjakan elektabilitas apabila kinerjanya di sektor ekonomi menunjukkan hasil signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

“Bukan hal mudah untuk menjadi yang teratas dalam survei. Figur-figur seperti Gibran, AHY, maupun Purbaya bisa saja mengalami peningkatan elektabilitas yang tajam menjelang 2028,” ungkap Jamiluddin.