Amran sendiri menegaskan bahwa pemerintah justru tengah mendorong ekspor beras sebagai bagian dari penguatan posisi Indonesia di pasar global. Ia menyebut Indonesia berencana mengekspor 2.280 ton beras ke Arab Saudi dalam waktu dekat. Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa produksi nasional dalam kondisi surplus dan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus membuka peluang pasar luar negeri.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah memang fokus pada peningkatan produktivitas pertanian melalui perbaikan irigasi, penyediaan pupuk bersubsidi, penggunaan benih unggul, serta modernisasi alat mesin pertanian. Upaya tersebut bertujuan menjaga stabilitas produksi di tengah tantangan perubahan iklim dan fluktuasi harga komoditas global.

Selain beras, dalam kesepakatan perdagangan tersebut Indonesia juga disebut meningkatkan akses impor sejumlah produk pertanian asal AS seperti daging sapi, jagung, kedelai, bungkil kedelai, gandum, etanol, buah-buahan segar, kapas, dan tepung gluten jagung. Pemerintah menilai langkah itu sebagai bagian dari strategi menjaga keseimbangan neraca perdagangan sekaligus memastikan ketersediaan bahan baku industri dalam negeri.

Amran kembali menegaskan bahwa orientasi utama pemerintah tetap pada kedaulatan pangan. Impor beras khusus dalam jumlah terbatas dinilai tidak bertentangan dengan semangat swasembada, selama produksi dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Ia memastikan penyerapan gabah petani akan terus dimaksimalkan melalui kerja sama dengan Bulog dan penguatan cadangan beras pemerintah.

Dengan stok nasional yang tinggi dan produksi yang stabil, pemerintah optimistis posisi Indonesia dalam sektor pangan semakin kuat. Impor beras basmati dari Amerika Serikat pun disebut hanya pelengkap untuk memenuhi kebutuhan segmen tertentu, bukan sebagai substitusi terhadap beras konsumsi utama masyarakat.