Ia kemudian memaparkan perbandingan dengan beberapa mata uang regional. Dalam periode yang sama, nilai tukar ringgit Malaysia tercatat mengalami pelemahan sekitar 0,5 persen. Sementara itu, mata uang Thailand bahkan mengalami depresiasi yang lebih dalam, yakni sekitar 1,6 persen terhadap dolar Amerika Serikat.

Perbandingan tersebut, menurut Purbaya, menunjukkan bahwa rupiah masih memiliki tingkat ketahanan yang cukup baik di tengah tekanan pasar global.

Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat tidak seharusnya menilai kondisi ekonomi hanya dari level nilai tukar semata. Dalam analisis ekonomi, yang lebih penting adalah melihat seberapa besar perubahan nilai mata uang dibandingkan negara lain dalam periode yang sama.

Pendekatan komparatif ini dinilai lebih objektif untuk memahami dinamika ekonomi global yang kompleks.

“Bukan hanya melihat level nilai tukarnya saja, tetapi juga seberapa besar pelemahannya dibandingkan negara lain. Dari sisi itu, rupiah masih cukup baik,” ujarnya.

Lebih jauh, Purbaya menilai stabilitas rupiah saat ini mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang masih relatif kuat. Ia menyebut bahwa berbagai indikator makroekonomi menunjukkan bahwa perekonomian nasional tetap berada pada jalur yang stabil meski menghadapi tekanan eksternal.

Salah satu faktor yang menjaga stabilitas tersebut adalah koordinasi kebijakan antara pemerintah dan bank sentral. Menurut Purbaya, sinergi antara kebijakan fiskal yang dijalankan pemerintah dan kebijakan moneter yang diterapkan oleh Bank Indonesia menjadi kunci penting dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Koordinasi kebijakan ini mencakup berbagai langkah strategis, mulai dari pengelolaan anggaran negara, stabilisasi pasar keuangan, hingga pengaturan likuiditas di sektor perbankan.

Selain itu, pemerintah juga berupaya menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia melalui kebijakan fiskal yang disiplin. Pengelolaan anggaran yang hati-hati dinilai menjadi salah satu faktor yang membantu mempertahankan stabilitas pasar keuangan.

“Kita masih dianggap mampu menjaga kebijakan fiskal dan moneter dengan baik serta memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat,” kata Purbaya.