Menurut BPS, kontraksi ekspor batu bara turut memengaruhi kinerja ekspor sektor pertambangan secara keseluruhan. Selama Januari–Desember 2025, ekspor produk pertambangan dan lainnya tercatat turun 23 persen, yang terutama disebabkan oleh merosotnya penjualan batu bara ke luar negeri.
Berbeda dengan batu bara, dua komoditas nonmigas unggulan lainnya justru mencatat kinerja positif sepanjang 2025. Ekspor besi dan baja mengalami peningkatan baik dari sisi nilai maupun volume.
Nilai ekspor besi dan baja tercatat naik 8,41 persen, dari US$ 25,80 miliar pada 2024 menjadi US$ 27,97 miliar pada 2025. Sementara volumenya meningkat dari 20,92 juta ton menjadi 23,26 juta ton.
Kenaikan tersebut mencerminkan kuatnya permintaan global terhadap produk hilirisasi mineral Indonesia, seiring berlanjutnya kebijakan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.
Kinerja positif juga ditunjukkan oleh minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya. Sepanjang 2025, nilai ekspor CPO melonjak 21,83 persen, dari US$ 20,05 miliar menjadi US$ 24,42 miliar. Volume ekspor CPO turut meningkat 9,09 persen menjadi 23,61 juta ton.
Mengutip rilis resmi BPS, peningkatan ekspor nonmigas Indonesia pada 2025 banyak ditopang oleh sektor industri pengolahan. Sepanjang Januari–Desember 2025, ekspor nonmigas dari sektor industri pengolahan tumbuh 14,47 persen, terutama didorong oleh meningkatnya ekspor minyak kelapa sawit dan produk turunannya.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga mencatat kinerja positif dengan kenaikan ekspor sebesar 21,01 persen, yang terutama disumbang oleh peningkatan ekspor kopi.
Sebaliknya, sektor pertambangan menjadi satu-satunya sektor yang mencatat kontraksi cukup dalam, sejalan dengan merosotnya ekspor batu bara.
Penurunan ekspor batu bara tidak terlepas dari dinamika global. Perlambatan ekonomi di sejumlah negara tujuan ekspor, fluktuasi harga komoditas, serta percepatan transisi energi di berbagai negara turut memengaruhi permintaan batu bara Indonesia.

Tinggalkan Balasan