Selain itu, deteksi molekuler menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) pada sampel saliva dan urin kelelawar di Sumatera Utara juga mengonfirmasi keberadaan genom virus Nipah.
“Temuan ini menunjukkan bahwa virus tersebut memang beredar di alam Indonesia,” kata Niluh, dikutip dari laman resmi BRIN.
Penelitian lanjutan juga mendeteksi virus serupa pada spesies Pteropus hypomelanus di wilayah Jawa. Secara genetik, virus tersebut memiliki kekerabatan dekat dengan isolat virus Nipah yang ditemukan di Malaysia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.
Niluh mengingatkan bahwa temuan ini tidak bisa dianggap sepele. Menurutnya, kondisi ekologis Indonesia justru membuat risiko penularan virus Nipah ke manusia (spillover) menjadi sangat mungkin terjadi.
Indonesia memiliki keanekaragaman spesies kelelawar yang tinggi, serta kedekatan habitat satwa liar dengan permukiman manusia. Praktik perburuan, perdagangan satwa, hingga perubahan lingkungan turut meningkatkan potensi kontak antara manusia dan reservoir virus.
Di sisi lain, keberadaan pasar hewan dengan sanitasi yang belum memadai serta populasi babi yang besar di beberapa wilayah juga menjadi faktor risiko tambahan dalam penularan lintas spesies.
“Interaksi yang intens antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci munculnya penyakit zoonotik seperti Nipah,” jelas Niluh.
Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada wabah di Malaysia pada 1998. Sejak saat itu, virus ini terus menyebabkan kejadian berulang di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk India dan Bangladesh.
Niluh menegaskan bahwa hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk virus Nipah. Penanganan pasien masih bergantung pada perawatan suportif, sehingga pencegahan dan deteksi dini menjadi langkah paling krusial.

Tinggalkan Balasan