BRIN mendorong penguatan surveilans aktif pada satwa liar, hewan domestik, dan manusia, serta peningkatan kapasitas diagnostik di berbagai daerah.

“Deteksi dini sangat penting untuk mencegah meluasnya penularan jika virus berpindah ke manusia,” ujar Niluh.

Pendekatan One Health juga dinilai menjadi strategi utama dalam kesiapsiagaan menghadapi virus Nipah. Pendekatan ini menekankan kolaborasi lintas sektor antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan.

Menurut Niluh, tantangan ke depan masih cukup besar, mulai dari keterbatasan data epidemiologi hingga rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko penyakit zoonotik.

“Edukasi publik harus diperkuat agar masyarakat memahami bahaya kontak dengan satwa liar dan konsumsi pangan yang berpotensi terkontaminasi,” katanya.

Niluh berharap hasil riset yang dilakukan BRIN dapat menjadi dasar dalam perumusan kebijakan nasional untuk mencegah penyakit emerging dan re-emerging di Indonesia.

“Penguatan riset, surveilans, dan kesiapsiagaan adalah kunci agar Indonesia mampu menghadapi potensi ancaman virus Nipah di masa depan,” pungkasnya.