Menariknya, Nursatyo menegaskan bahwa aktivitas komunikasi Teddy tidak menunjukkan upaya membangun personal branding secara berlebihan. Seluruh narasi yang disampaikan justru bermuara pada penguatan legitimasi pusat kekuasaan, yakni Presiden Prabowo Subianto.
“Teddy tidak sedang membangun panggung untuk dirinya sendiri. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai aktor utama, melainkan sebagai fasilitator komunikasi Presiden,” jelasnya.
Hal ini, menurut Nursatyo, membedakan Teddy dari sebagian pejabat publik yang justru memanfaatkan media sosial untuk membangun citra personal yang terpisah dari institusi atau pemerintahan.
“Dalam konteks ini, Teddy konsisten menempatkan Presiden sebagai pusat narasi. Itu yang membuat komunikasinya terlihat solid dan terarah,” tambahnya.
Nursatyo juga mengingatkan bahwa tantangan komunikasi pemerintahan ke depan akan semakin kompleks. Kecepatan informasi, algoritma media sosial, serta polarisasi opini publik menuntut pemerintah memiliki strategi komunikasi yang adaptif dan terukur.
Dalam konteks tersebut, peran pejabat seperti Seskab Teddy menjadi semakin krusial sebagai jembatan antara kekuasaan dan publik.
“Jika komunikasi tidak dikelola dengan baik, ruang digital bisa menjadi sumber krisis legitimasi. Karena itu, kehadiran figur yang mampu meredam, menjelaskan, dan menata narasi menjadi kebutuhan strategis,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan