Menurut Anindya, kebutuhan pangan yang muncul dari program MBG sangat masif dan nyata. Dengan jumlah penerima yang terus meningkat dari sekitar 52 juta menuju target 82 juta orang, kebutuhan bahan pangan pun melonjak signifikan.

“Bayangkan, jika satu hari saja dibutuhkan sekitar 52 juta butir telur, ditambah ayam, sayuran, ikan, dan komoditas lainnya. Ini menciptakan ekosistem ekonomi yang luar biasa besar,” katanya.

Ia menambahkan, setiap daerah memiliki potensi protein unggulan masing-masing. Oleh karena itu, program MBG mendorong keterlibatan aktif pemerintah daerah dan pelaku usaha lokal. Tidak sedikit daerah yang berlomba mendapatkan titik dapur MBG agar bisa terlibat langsung dalam rantai pasok.

Anindya juga menyoroti potensi penyerapan tenaga kerja dari program MBG. Saat ini, mayoritas dapur MBG masih dijalankan dengan pendanaan mandiri dan menyerap banyak tenaga kerja lokal.

“Jika satu dapur membutuhkan sekitar 50 tenaga kerja, dan dikalikan 30 ribu dapur, maka ada potensi penyerapan hingga 1,5 juta tenaga kerja. Dari sisi ekonomi makro, ini bisa menambah pertumbuhan PDB hingga 3,5 persen,” ujar Anindya.

Menurutnya, angka tersebut bukanlah kontribusi kecil dan dapat menjadi salah satu pendorong utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional.

Lebih jauh, Anindya menegaskan bahwa program MBG membuka peluang luas bagi anggota Kadin dan asosiasi usaha di daerah. Peluang tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari pasokan ayam, telur, tahu, tempe, sayuran, buah-buahan, hingga susu.

Selain sektor hilir, peluang juga terbuka di sektor hulu dan pendukung, seperti cold chain, logistik pangan, koperasi, serta pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Protein untuk memastikan ketersediaan bahan pangan.