Meski demikian, Presiden Prabowo sebelumnya secara terbuka menyatakan tidak segan merombak kabinet apabila ada menteri yang dinilai tidak disiplin atau menyimpang dari kebijakan pemerintah.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri kegiatan pengukuhan mahasiswa baru dan wisuda sarjana Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) di Trans Convention Bandung, pada Sabtu (18/10/2025).

“Kalau ada satu-dua nakal saya peringati. Satu kali peringatan masih nakal, dua kali peringatan. Tiga kali apa boleh buat, reshuffle harus diganti,” kata Prabowo saat itu.

Pernyataan tersebut kerap dijadikan rujukan oleh publik dan analis politik setiap kali isu perombakan kabinet kembali mencuat.

Berdasarkan catatan, Presiden Prabowo Subianto telah melakukan perombakan kabinet sebanyak empat kali sepanjang tahun 2025. Reshuffle tersebut menyasar sejumlah posisi strategis di Kabinet Merah Putih.

Reshuffle pertama dilakukan pada 19 Februari 2025, atau saat usia kabinet baru memasuki empat bulan. Dalam perombakan perdana ini, Prabowo melantik enam pejabat baru. Salah satu keputusan yang menjadi sorotan adalah pencopotan Satryo Soemantri Brodjonegoro dari jabatan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang kemudian digantikan oleh Brian Yuliarto.

Perombakan kabinet berskala besar dilakukan pada 8 September 2025. Pada kesempatan tersebut, Prabowo menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan, menggantikan Sri Mulyani Indrawati.

Selain itu, Mukhtarudin ditunjuk sebagai Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) menggantikan Abdul Kadir Karding, sementara Ferry Juliantono dipercaya mengisi posisi Menteri Koperasi menggantikan Budi Arie Setiadi.

Pada reshuffle ini pula, Prabowo melantik Mochamad Irfan Yusuf sebagai Menteri Haji dan Umrah, kementerian baru yang pertama kali dibentuk dalam Kabinet Merah Putih. Posisi Wakil Menteri Haji dan Umrah diisi oleh Dahnil Anzar Simanjuntak.